Jika tertarik untuk memasang iklan, silahkan hubungi Sdr Erik A Saputro di Wa 0856 6497 4415

Wednesday, August 7, 2019

Sudah Optimalkah Upaya Pertamina Dalam Mengatasi YYA-1RW ??

Eransa - Pada tanggal 18 Juli 2019 lalu, kita di kejutkan dengan tercemarnya perairan Karawang oleh minyak mentah dari sumur YYA-1RW, hal ini lantas menjadi pemberitaan nasional yang deras dan tak terbendung. Pencemaran lingkungan serta kerugian yang besar akibat dari tragedi ini pun menjadi perbincangan yang terasa wajib memang untuk di bahas, berbagai media pun tak lepas mengabarkan berita hangat tersebut.

Sumber : Google
Secara umum, kebocoran ini bermula pada hari Jum'at tanggal 12 Juli 2019 sekitar pukul 01.30 Wib saat di lakukannya Re-entry di sumur YYA-1 pada kegiatan reperporasi. Kegiatan ini merupakan proses pembuatan lubang ketika sumur siap untuk produksi, pada prosesnya muncul gelembung gas di anjungan yang berada di wilayah operasi tersebut yang di duga karena adanya anomali tekanan. Perlu di ketahui bahwa sumur YYA-1RW merupakan sumur bekas eksplorasi pada tahun 2011. Kemudian pada tanggal 16 Juli 2019 muncul lapisan minyak di permukaan laut, lalu pada tanggal 17 Juli 2019 minyak mulai terlihat di sekitar anjungan, dan tanggal 18 Juli 2019 minyak mulai mencapai pantai.

Adapun efek samping atau bahaya dari tumpahnya minyak mentah ini kelaut antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Kerusakan biologis yang merupakan efek letal dan sub letal.
  2. Menghambat pertumbuhan fitoplankton di laut karena tumpahan minyak ini mengandung senyawa yang beracun.
  3. Penurunan populasi alga dan protozoa karena kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air)

Sumber : Wikipedia


"Dengan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi tersebut, telah optimalkah yang dilakukan pertamina untuk mengatasi hal tersebut", ini mungkin menjadi pertanyaan dari berbagai pihak dan masyarakat mengingat bahwa kejadian tersebut telah berlangsung selama 20 hari semenjak artikel ini di terbitkan.

Sebenarnya, paska terjadinya kebocoran itu, pihak Pertamina telah melakukan Oil Boom yakni peralatan yang digunakan untuk melokalisir atau mengurung tumpakan minyak pada permukaan air, dengan bahasa sederhana bahwa Oil Boom ini semacam pemasangan pagar mengapung diatas permukaan laut.
Selain itu, berdasarkan press realese pada website resmi dari Pertamina, menyatakan bahwa :
  1. Pertamina berhasil mempercepat tajak pengeboran Relief Well YAA-1RW sebagai upaya untuk memberhentikan gelembung gas.
  2. Rig Jeck Up Soehanah (platform pengeboran) telah berada di lokasi pengeboran Relief Well YAA-1RW pada Tanggal 17 Juli 2019.
  3. Pertamina telah menggandeng beberapa perusahaan yang berpengalaman dalam mengatasi hal semcam ini seperti Boot & Coots asal Amerika.
Berdasarkan beberapa fakta tersebut, maka terjawab kah pertanyaan dari keoptimalan langkah-langkah yang dilakukan pertamina?

Tentu pembaca memiliki jawabannya sendiri, mari kita berdiskusi akan hal ini.


0 komentar:

Post a Comment

Follow by Email